Setelah sekian lama saya menunda belajar mengemudi mobil, akhirnya kemarin saya les juga.
Saya merasa excited sekaligus khawatir… hahaha
Oke, kita tidak membahas bagaimana les saya…
Setelah 2 jam belajar, saya merenungkan kata2 guru lesnya ternyata filosofi mengemudi mobil itu sama dengan filosofi menjalani kehidupan.
Begini maksudnya….

Guru les saya mengatakan, “Mengemudikan mobil itu kuncinya ada di dalam mobil. Setir, pedal gas, rem, kopling, tongkat persneling, hand rem. Semuanya di dalam. Jadi apapun yang terjadi di luar mobil, sopirnya harus tetap tenang jangan panik. Kalo kamu panik, ya buyar mas karena kamu ndak akan bisa mengendalikan yang di dalam mobil, padahal semua kuncinya ada di dalam mobil.”
Renungkan kata-kata di atas…
Ilmu pemberdayaan diri apapun kuncinya juga ada di dalam diri kita.
Kita tidak bisa memprediksi apapun yang terjadi di luar diri kita, namun kita bisa menentukan respon kita.

Guru les itu melanjutkan, “jangan kemrungsung di hati, harus tetap tenang.”
Tak pikir-pikir, ini saya lagi les mobil apa ikut kelas pemberdayaan diri… wkwkwk.

Lalu ada satu momen saya terlihat takut saat praktek belajar putar balik mobil…
Guru lesnya mengatakan, “Tenang aja mas. Mobilnya ndak mungkin nyebur ke sawah di depan, kan setirnya sudah kamu belokkan. Jelas ndak mungkin, setir sudah dibelokkan, mobilnya malah lurus terus… hahaha. Kalau sampe nyebur sawah, itu berarti setirnya tidak kamu belokkan”
MAK JLEB…
Ada hikmah besar di balik kata-katanya… wkwkwk
Cara paling mudah untuk mengetahui apakah kita sudah mengemudi mobil dengan benar adalah melihat hasil di luar, mobilnya ada di mana setelah kita kemudikan.
Kalau mobilnya jalan lurus terus, sudah pasti sopirnya yang membuat mobil jalan lurus terus.
Kalau mobilnya belok kanan, sudah pasti sopirnya juga yang membuat mobil berbelok ke kanan.
Dengan filosofi yang sama, untuk mengetahui apakah kita sudah “mengemudikan” kehidupan kita dengan benar adalah melihat hasil di luar.
Misalnya, 5 tahun lalu kita ingin menjadi kaya raya dan sehat dalam hidup, namun faktanya sekarang kita masih miskin dan sakit-sakitan. Apanya yang salah?
Dengan mudah kita jawab yang salah sopirnya (diri sendiri).
Tujuannya mau kaya dan sehat tapi faktanya kok masih miskin dan sakit-sakitan, ya seng goblok diri sendiri, kurang pinter “mengemudikan” kehidupan… hahahaha

Selamat belajar “mengemudikan” kehidupan Anda menuju tujuan yang diinginkan.
Kalau sudah lama tidak nyampe ke tujuan atau malah salah arah, itu artinya Anda masih perlu belajar “mengemudikan” kehidupan.
Belajarnya ke mana?
Yang pasti bukan ke saya, soalnya saya sibuk belajar mengemudi mobil… wkwkwk
Kalau saya belajar “mengemudikan” kehidupan dari mas¬†Arif Rahutomo¬†dan Guruji Gede Prama.
Setidaknya di tahun 2017 ini saya niatkan diri belajar dari beliau berdua.

Terima kasih… Namaste… _/|\_